Setiap pagi saya selalu memperhatikannya dari sudut jendela kamar saya, sambil menikmati secangkir kopi hangat bahkan sebelum saya melakukan aktivitas apapun. Tidak ada alasan khusus kenapa saya lakukan ini setiap pagi belakangan ini. Bangun tidur, membuat secangkir kopi, memandang jam dan melangkah menuju jendela kamar saya dan menunggunya datang.
Semuanya berasal dari hari itu. Saat saya terbangun terhuyung-huyung pagi itu karena jam tidur yang kurang semalam. Saya mendekati cermin dan menghela nafas mendapatkan lingkaran hitam itu menghiasi mata saya yang lembek kemerahan. Saya menyalahkan diri saya. Saya membutuhkan kejernihan pikiran saya. Apa yang terjadi dengan diri saya sehingga saya harus menderita seperti ini?
Adik saya bilang itu adalah gejala “writer’s block”, saat dimana kepala tiba-tiba menjadi kosong dan buntu, saat inspirasi tiba-tiba menghilang dan enggan hadir di dalamnya. Saya terhenyak. Kenapa saya harus mengalaminya? Kata mereka saya jenius. Saya selalu mendapatkan ide mengalir bagai air bah dalam pikiran saya. Terkadang saya harus berteriak berhenti karena kewalahan menuliskan arus-arus ide itu melalui tangan saya yang hanya terbatas dua. Maka ketika mendapatkan saluran itu mampat, saya hanya bisa mengeluh frustasi, kok bisa?
Saya punya tenggat waktu yang harus segera dipenuhi. Saya punya orang-orang yang harus dihadapi. Saya harus menulis sesegera mungkin. Saya membutuhkan inspirasi. Tapi apa yang bisa saya tulis?
Tulis tentang orang-orang yang kaucintai, saran adik saya.
Para pembaca itu bahkan sudah tahu siapa dan bagaimana mereka, jawab saya.
Tulis tentang hal-hal yang kausukai, benda-benda kesayanganmu atau yang ada di ruanganmu.
Aku sudah kehabisan kata menggambarkan mereka.
Tulis tentang negara ini, kebobrokan pemerintah, masalah-masalah sosial dan semacamnya.
Aku tidak mau ikut frustasi di dalamnya, jawab saya.
Kalau begitu lihatlah keluar. Temukan apa yang bisa kau lihat di sana.
Maka saya melakukan saran itu. Tanpa menghiraukan kepala yang berdenyut-denyut saya meraih gelas kopi saya dan melangkah ke sudut jendela. Saya melihat keluar. Saya memperhatikan sekeliling. Saya terkejut melihat warna-warni pagi. Hiruk pikuk orang-orang itu, keindahan nuansa, keanekaragaman aktivitas dan ekspresi membuat saya tersadar akan latar belakang dan tema yang terbentang di hadapan saya. Saya merasa seperti seekor katak yang baru saja keluar dari tempurungnya. Saya takjub. Kenapa tidak saya lakukan ini dari dulu?
Tapi saya tetap tidak bisa menulis. Luapan latar belakang dan adegan itu membanjiri kepala saya membuat otak saya menjerit-jerit minta tolong, apa yang harus saya lakukan dengan mereka? Saya membutuhkan fokus. Saya membutuhkan lakon. Saya membutuhkan sebuah karakter yang mampu memusatkan konsentrasi saya padanya. Karakter yang bisa saya menarik seluruh imajinasi saya dan menempatkan segala latar belakang dan konflik itu dalam kehidupannya. Saat itulah saya melihatnya.
Pemuda itu berlari-lari dari sudut jalan dengan panik. Saya tidak tahu apa yang membuat saya tiba-tiba tertarik padanya. Saya hanya melihat dia begitu hidup dan bersinar. Dia berhenti di halte tepat ketika bus yang berhenti di situ bergerak maju. Dia meraih gagang pintu bus serta-merta melompat masuk dan meninggalkan saya yang sempat terpukau melihat keindahan ekspresi lega di wajahnya.
Apa yang membuatnya terburu-buru? Apa yang sedang dikejarnya? Apakah dia terlambat sampai di tempat tujuan? Apa yang kira-kira dia pikirkan?
Tiba-tiba saya merasa telah menemukan fokus itu. Pemuda itu seolah mengisi kekosongan sebuah ruangan penting dalam relung imajinasi saya. Seperti potongan puzzle yang hilang, dia mengisi dengan sempurna latar belakang pagi yang telah tersedia untuknya. Saya menemukan karakter yang saya butuhkan dan saya dapatkan kembali aliran itu. Saya berpikir mungkin memang bukan saatnya lagi saya bercerita tentang kehidupan saya. saya akan bercerita tentang dia.
Sejak itu berdiri setiap pagi di sudut jendela setiap pagi sambil menyesap kopi menjadi rutinitas baru saya. Karakter kesayangan saya itu selalu muncul dengan setia bersama segala ceritanya. Hari ini dia muncul dengan gembira, maka saya menulis sebuah kisah penuh energi yang bersemangat. Hari berikutnya dia muncul dengan kesedihan, maka sayapun menulis tentang patah hati yang menyakitkan. Lain waktu dia muncul dengan kebahagiaan dan sikap yang berbunga-bunga, maka saya menuliskan sebuah kisah romantis yang berbunga-bunga. Saat dia muncul dengan keseriusannya, maka saya menulis tentang sebuah impian dan kedewasaan.
Sudah sepantasnya saya berterima kasih dengan karakter kesayangan saya itu. Selama ini saya tidak pernah menyapa dan berkenalan dengannya. Lama kelamaan saya merasa seperti seorang pengintai dan pencuri atas irama kehidupan orang lain. Maka hari ini saya memutuskan untuk menyapanya. Saya ingin menampakkan diri sekaligus memperkenalkan diri. Saya tahu mungkin ini terlambat. Mungkin dia akan terkejut saat saya katakan dialah sumber inspirasi saya yang hilang. Mungkin dia akan tersanjung, tertawa geli atau bahkan tersinggung atas pelanggaran privasi yang telah saya lakukan. Tapi saya seorang gentlemen. Saya harus memunculkan diri dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya ambil darinya. Maka saya putuskan untuk menunggunya.
Dia muncul dari sudut jalan dengan gaya kasualnya seperti biasa. Baru kali ini saya mendapatkan diri saya memperhatikannya dengan lebih intens. Saya baru menyadari wajahnya yang menarik. Tubuhnya kurus dengan gaya santai yang enak dilihat mata. Saya tersadar dia memiliki daya tarik yang tidak kecil. Mungkin itulah yang membuat pikiran saya terfokus padanya saat itu. Entah kenapa saya merasa wajah saya memanas. Mendadak saya merasa ragu. Apakah saya harus menyapanya? Apakah saya harus berkenalan dengannya? Bagaimana kalau dia menolak? Tapi saya benar-benar harus menampakkan diri. Maka saya tidak mau berpikir lagi. Saya berlari menuruni tangga kamar rumah saya menuju jalan.
Selamat pagi, sapa saya.
Dia menoleh dan tersenyum. Saya tahu dia merasa asing dengan saya. Tapi saya juga tahu dia sedang mencoba bersikap ramah pada saya. Entah kenapa saya merasa tersanjung.
Apa saya kenal, mas?
Dia bertanya dan saya menggeleng.
Tapi saya sering melihat kamu dari jendela kamar saya setiap pagi. Saya Dika, kata saya lagi.
Dia tertawa santai. Namun di telinga saya suaranya terdengar indah.
Saya Christ. Wah, saya pasti merusak pemandangan pagi mas, ya? tanyanya.
Tidak, tukas saya serta-merta. Kamu sumber inspirasi saya.
Dia mengerutkan dahi dengan heran. Namun sebuah bus sudah berhenti di dekat kami. Saya tahu itu bus yang ditunggunya.
Maksud, Mas?
Saya tersenyum.
Busmu sudah datang. Saya tinggal di seberang. Mampirlah kapan-kapan kalau mau, tawar saya ramah.
Dia tercengang. Mulutnya terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu. Namun dia segera tersadar ketika melihat busnya mulai bergerak pergi. Saya tersenyum memandangnya. Akhirnya saya sudah menyapanya. Saya merasa kehangatan merayapi hati saya. Bunga-bunga itu seperti bersemi dan menebarkan aroma harusmnya yang abadi. Saya tahu apa yang akan saya tulis hari ini.
Saya akan menulis tentang cinta.
Tapi bukan tentang dia.
Kali ini kembali tentang saya.
******************************
Author note :
Happy Birthday, Sinichi...
Saya teringat sama PM kamu yang menanyakan soal "gay" itu. Jadi, saya persembahkan cerpen ini untuk dirimu seorang. Oya, ada salam dari mas Dika, si penulis yang tinggal di apartemen di seberang halte bus....XD
Mas Dika sapa yaa?
ReplyDeleteAhahk ahak...
-Kavellania-
Waahhh...
ReplyDeletenice...nice...
hebat
duuhh...
thanks banget mbak yos