Teng teng teng teng …
Dentang jam di ruang keluarga membuatku semakin resah. Sudah pukul 23.00 WIB, menyisakan satu jam sebelum hari baru dimulai. Apa yang harus kulakukan. Semua cara telah aku coba namun tak satu pun yang berhasil. Nol besar. Yang ada hanya membuatku semakin senewen menghadapi ini. Hmmm ... aku menarik nafas dalam sekali lagi. Mencoba untuk tetap tenang dan sabar. Hal yang sangat susah aku lakukan saat panik. Baiklah, mungkin harus aku ulangi dari awal. Berharap usahaku kali ini berhasil. Namun kenyataan berbicara lain. ”Duh, dudul benar diriku.”
Ditemani secangkir cappucinno panas dan sekotak brownies kukus hanya mampu mengganjal perut kosong yang belum terisi sejak tadi sore. Sibuk dengan tugas-tugas kampus dan mempikirkan ini membuatku lupa makan.
Kuraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari layar monitor 14’ yang sudah berjam-jam aku pandangi. Mencoba menghubungi beberapa teman. ”Semoga mereka bisa membantu,” pikirku. Namun sekali lagi kenyataan berbicara lain. Sama sepertiku mereka sama tak mengerti.
”Mbak, di tempat aku fine-fine aja kok”
”Coba kamu ulangi lagi dech.” (Dari tadi juga sudah aku lakukan).
atau malah jadi ledekan, ”Kesalahan bukan pada komputer anda melainkan user yang memakainya.” (hahaha garing).
Terpikirkan satu nama, Christ. Hanya dia yang bisa. Hanya dia yang mampu membantuku. Tapi dimana dia sekarang. Dimana dia saat aku membutuhkannya, saat aku memerlukannya. Tuhan, aku mohon hadirkanlah dia sekarang. Ini emergency tingkat tinggi. Harus malam ini.
Tuhan rupanya selalu bermurah hati padaku seperti hari-hari sebelumnya. DIA mendengar pintaku. Saat tangan ini beralih pada icon Yahoo! Messanger yang menjadi sarana kami berkomunikasi ... cihuuii dia online. Aku bersorak dalam hati.
radysha_aja: alow kudo
Shinichi Kudo: alloww, mbak
Shinichi Kudo: J
Shinichi Kudo: ada yg isa saia bantu
radysha_aja: hehehe
radysha_aja: apa yaaa
radysha_aja: nasi goreng satu enak nich
Shinichi Kudo: J
radysha_aja: kidding J
Shinichi Kudo: gak ada nasi gorengna
Setelah berbasa-basi langsung saja aku mengeluh padanya. Bla – bla – bla, mulai bawel menceritakan apa yang sedang aku hadapi. Apa yang membuat kesabaranku sampai pada titik terendah. Sejak kemudian.com - situs penulis dengan slogan menulis, membaca, mengapresiasi tempat aku bergabung satu semester ini – berevolusi beberapa minggu lalu, membuat aku jadi banyak bingung.
Sebenarnya malam ini aku ingin memposting cerita yang akan menjadi hadiah ulang tahun untuk seseorang. Rame-rame bikin kumcer dengan member lain. Namun saat aku klik ”submit” aku tak menemukan kotak kosong dimana aku dapat mengetik ceritaku. Sudah aku coba berkali-kali tetap saja gagal, panik jadinya.
Christ, cowo asal
Christ dengan sabar memanduku dari seberang. Mengarah apa yang mesti aku lakukan. Dan dalam hitungan menit itu berhasil.
radysha_aja: berhasil
radysha_aja: bentar ya kudo
radysha_aja: aku post cerita dulu
radysha_aja: deadline
radysha_aja: J
Shinichi Kudo: ok
Shinichi Kudo: J
Tak berapa lama langsung aku submit ceritaku (entahlah apa itu bisa disebut cerita). Cerita yang tak lain memang untuk dia, Christ Sang Momod. Beruntung ada momod yang selalu mau membantu, thank you Kudo.
”Selamat ulang tahun Kudo, semoga panjang umur, wish you all the best.”
Hehehe
ReplyDeletesaia harap itu bukan bagian dari skenario, mbak
hihihi
gituh deh
makasiy banyak
apa aja, kapan aja, saia coba membantu